Di tengah perkembangan situasi tanah air yang memanas, acara pelantikan Idarah Wustha Jawa Barat memiliki makna sangat stretegis. Acara pelatikan ini terjadi di Pondok Pesantren Azzainiyyah Sukabumi (30-8-2015) serta merupakan bagian rangkaian acara Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani serta Haul ke-10, pendiri Pondok Pesantren Azzainiyyah, KH. Zezen ZA Bazul Asyhab.
Dalam Sesi 1, 16.00-17.30, Pembekalan Idarah Aliyah JATMAN, oleh Mudir Ali Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa, SH., M.Si., M.Hum, dengan tema “Tata Kelola Organisasi JATMAN, dari Struktur ke Kultur”, menyampaikan tentang pentingnya menginsert tarekat dalam kehidupan bernegara. Insert tarekat dalam kehidupan bernegara lewat kegiatan-kegiatan isighatsah yang di selenggarakan di pendopo, proses mempengaruhi keputusan pemerintah serta ikut mencegah praktek korupsi dan mencegah berbagai penyimpngan pengelolaan negara. Thariqah sebagai cermin kehidupan bernegara harus terlibat menyembuhkan berbagai penyakit sosial yang ada.
Mudir Ali juga menyampaikan pentingnya konsolidasi struktural, kultural, serta program dengan percepatan pembentukan kepengurusan sampai di tingkat ghusniyah (kecamatan), serta safiyah (desa) karena pada dua wilayah tersebut basis masa itu berada. Pada kedua tingkatan pengurus kegiatan-kegiatan istighatsah serta manaqib dilaksanakan.
Pada Sesi 2, pada 18.30-20.00, berlangsung acara Haul ke-10 Almaghfurlah, KH. Zezen ZA Bazul Asyhab, Rais Idarah Wustha Jatman Jawa Barat Masa Khidmat 2007-2012. Ajengan Zezen ZA yang lahir 17 Februari 1955 adalah seorang ulama dan tokoh masyarakat Sukabumi yang memiliki riwayat pendidikan panjang dari sekolah rakyat hingga berbagai pesantren terkemuka, seperti Pesantren Pabuaran, Pesantren Almasthurriyyah, dan Pesantren Riyadul Mutafaqirin. Setelah mengembara menuntut ilmu, beliau mendirikan Pondok Pesantren Darul Falah kemudian menjadi Darurrohman serta akhirnya menjadi Azzainiyyah di Sukabumi dan aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama, khususnya di JATMAN, hingga akhirnya wafat pada 19 November 2015 dan dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga di lingkungan Pondok Pesantren Azzainiyyah. Pukul 20.00-selasai, Sesi 3 berupa pelantikan Idarah Wustha, Jam’iyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN), masa khidmat 2025-2030 dan Idarah Syu’biyah JATMAN Kabupaten/Kota masa khidmat 2025-2029. Acara prosesi pelantikan JATMAN, masa khidmat 2025-2030 dan Idarah Syu’biyah JATMAN Kabupaten/Kota masa khidmat 2025-2029, dimulai dengan pembukaan serta menyanyikan lagu Indonesia Raya, kemudian lagu Yalal Wathan serta menyanyikan lagu Mars Sukabumi oleh hadirin serta tim paduan suara.
Kemudian pembacaan ayat suci Al-Qur’an serta pembacaan Shalawat Thariqiya oleh Ustadz Firman Firdaus, S.Pd.I. Dilanjutkan dengan pembacaan hadharah oleh Wakil Rais Idarah Wustha JATMAN Jawa Barat, KH. Zamzami Amin. Kemudian wasiat Pangersa Uwa Zezen ZA Bazul Asyhab oleh KH. Aah Abduh Aziz Zein, S.Pd.I. Isi dari 6 wasiat Uwa,
Bismillâhir rahmânir rahîm. Dengan didasari kasih sayang dan ikhlas karena Allah, Uwa wasiat kepada semuanya:
- Harus kuat iman dan taqwa kepada Allah, mengikuti semua perintah Allah dan Rasul-Nya, jauhi segala larangannya, serta jangan keluar dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah;
- Laksanakan ibadah wajib dan sunah;
- Ikuti pemerintah dalam perkara yang tidak bertentangan dengan agama;
- Harus rukun sesama saudara, jangan bersengketa, uwa tidak rela kalau sampai ada persengketaan, apalagi karena berebut kekuasaan dan harta, jauhi segala sebab yang bisa memicu persengketaaan. Maafkan jika orang lain salah, dan segera meminta maaf jika kita yang salah.
- Harus saling menyayangi. Jangan acuh terhadap saudara yang kekurangan. Jangan iri dengki kepada mereka yang mengalami kemajuan.
- Lanjutkan perjuangan Uwa dalam membela agama dan negara. Lanjutkan “ngawuruk” santri, berdoa, membalas jasa orang lain, berdakwah, jihad, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Jangan diikuti kalau ada akhlak Uwa yang kurang baik.
Prakata kemudian disampaikan oleh Ketua Panitia, Drs. KH. Agus Gunawan, MH. Dalam prakatanya, Ketua Panitia menyampaikan ucapan bahwa pelantikan terjadi karena adanya kolaborasi antara panita di Jawa Barat dengan panitia Maulid Nabi serta Haul Al-Maghfurlah, KH. Zezen ZA Bazul Asyhab. “Telah hadir dari berbagai wilayah serta acara ini diikuti 300 orang peserta dari utusan pengurus Idarah Wustha JATMAN Jawa Barat serta dari pengurus 27 Syu’biyah JATMAN yang dilantik,”ungkapnya. Ketua Panitia juga menyampaikan mengucapkan terimakasih kepada KH. Aang Abdullah Zein selaku pimpinan Pondok Pesantren Az-Zainiyah yang telah mensupport acara ini dari mulai akomodasi sampai penginapan. Semua ditanggung oleh al-Mukaram.
Kemudian pembacaan SK Pengurus JATMAN Idarah Wustha Jawa Barat Masa Khidmat 2025-2030 serta Idarah Syu’biyah Kabupaten Sukabumi, Kota Sukabumi, Kabupaten Bogor, Kabupaten Garut serta Kabupaten Purwakarta Masa Khidmat 2025-2029 oleh Dr. KH. Ali Abdullah selaku Sekretaris Jenderal Idarah Aliyah JATMAN. Kemudian dilanjutkan Ikrar/Baiat dipimpin oleh Mudir Ali, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa, SH., M.Si., M.Hum. yang diawali dengan pertanyaan,”Bapak/Ibu siap dibaiat?” Pertanyaan Mudir Ali itu menapatkan jawaban dari semua yang hadir,”Siap.”
Semua yang gadir kemudian mengikuti kata-kata baiat,”Asyhadu alla ilâha illallâh. Waasyhadu anna Muhammadar Rasûlullâh. Radlîtu billâhi Rabba, wabil Islâmi dîna wabi Muhammadinnabiyya wa Rasûla. Baya’tukum alas sam’i wa tha’ah, biljihâdi ‘ala Thariqâti Nahdlatil Ulama, liilâ kalimatillah allatî hiyal ulya fî qiyâdati ulâmai ahlus sunnah wal jamâ’ah. Kami selaku Idarah wustha (dikuti oleh pengurus Idarah Wustha), kami selaku Idarah Syu’biyah Syu’biyah (diikuti oleh pengurus Idarah Syu’biyah) Jam’iyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah dengan penuh kesadaran dan tanggung-jawab, mengikrarkan diri sebagai berikut:
- Akan mengamalkan dan mempertahankan Pancasila, UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Menegakkan aqidah Islam Ahlis Sunnah Wal-Jama’ah An-Nahdliyyah dan patuh pada Peraturan Dasar, Peraturan Rumah Tangga Jam’iyyah Ahlut Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah;
- Akan melaksanakan tugas dan kewajiban, sebagai Idarah Syu’biyah dan Wustha Jam’iyyah Ahlut Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah sebaik-baiknya, demi kepentingan JATMAN, kepentingan Nahdliyin, kepentingan umat Islam, kepentingan masyarakat Indonesia secara umum;
- Akan menyumbangkan tenaga dan pikiran dalam rangka ikhtiar untuk pembangunan manusia seutuhnya, demi terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lâ haula walâ quwwata illa billâhil ‘aliyyil adzînm. Hasbûnallah wani’mal wakîl. Ni’mal maula wani’man nashîr.
Dalam sambutan selaku Shahibul Bait serta selaku pimpinan Pondok Pesantren Az-Zainiyah, KH. Dr. Aang Abdullah Zein, M.Pd. menyampaikan optimisme tentang perkembangan tarekat di tanah air karena memiliki karakter mulia. “Kami mendapatkan keberkahan dan kemuliaan, Pondok Pesantren Azzainiyyah dulu sering dipergunakan tempat berkumpulnya Jam’iyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah, dari mulai mukerwil dan kegiatan-kegiatan lainnya ketika masih ada Abah kami, Uwa. Namun kali ini sejarah itu diulang kembali pada fase yang ke-2, dan membawa keberkahan bagi kami, bagi pondok pesantren Az-Zainiyah, keberkahan bagi Kabupaten Sukabumi karena mengusung tema Sukabumi Mubarakah. Masyarakat unggul, maju, berbudaya dan berkah.
Mohon doakan kami agar kami semakin maju, semakin berkembang, semakin hebat karena bagi kami sebaik-baiknya kurun ada pada masa Uwa, kami berupaya untuk terus mengikuti beliau. Uwa memiliki jargon “Bukakan Pintu Langit, Getarkan Bumi”. Bukakan pintu langit dengan thariqah, Getarkan bumi dengan gerakan An-Nahdliyah. Kami anak-anaknya menyambut jargon itu dengan “Khidmah Tanpa Balas, Ikhlas Tanpa Batas.”
Pangersa Uwa selalu mengatakan bahwa bagi kiai, harta yang paling mahal adalah santri, jabatan yang paling tinggi adalah ‘ngawuruk’ (mengajar). Kami anak-anaknya memiliki prinsip bahwa harta yang paling mahal adalah guru, serta jabatan paling tinggi adalah khidmah. Thariqahlah yang membawa kemuliaan untuk Indonesia, thariqahlah yang membuat Indonesia merdeka, Thariqahlah yang membuat Indonesia damai, thariqahlah yang membuat Indonesia sejahtera thariqahlah yang membuat Indonesia dibanggakan dunia, maka kebanggaan kami, saat didatangi jam’iyah thariqah, bermakna kamipun akan ikut terbawa mulia,”ungkapnya.
Sambutan selanjutnya dari Mudir Idarah Wustha JATMAN Jawa Barat, KH. Endang Samsudin. Pertama-tama Mudir menyampaikan ucapan terimakasih untuk semua, wabil khusus kepada Idarah Aliyah dan kepada Shahibul Bait yang telah memfasilitasi untuk mengadakan pelantikan Idarah Wustha, juga beberapa Idarah Syu’biyah di Jawa Barat. Mudah-mudahan dengan pelantikan ini akan membuat lebih semangat, menjadi lebih terarah, menjadi lebih terstruktur di dalam mengemban amanah dari JATMAN ini.
“Dalam hal ini saya ingin mengutip sebagian kata-kata Sayyidina Abu Bakar ketika dibaiat sebagai khalifah,”Yâ ayyuhanâs, innii qad wuliitu ‘alaikum walastu bikhairikum. Fain ahsantu, fa’ainuunii, wain asa’tu faqawwamunî”. Saya dilantik sebagai Ketua Idarah Wustha, padahal saya merasa saya bukan yang terbaik. Banyak yang lebih baik dari saya. Tapi hanya takdir dari Allah yang menjadikan saya ini menjadi mudir Idarah Wustha ini. Oleh karena itu, apabila langkah saya baik dan benar, mohon dibantu. Apabila salah atau melenceng, mohon diluruskan, terkhusus terhadap Mudir Aliyah, kalau langkah-langkah saya ini tidak pas dengan aturan, mohon ditegor. Juga kepada para masyayikh, kami mohon dibimbing. Mudah-mudahan Idarah Wustha ke depan lebih bermakna, lebih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,”ujarnya.
Selanjutnya adalah sambutan dari Wakil Bupati Sukabumi, Andreas, SE. Yang menyampaikan bahwa dia secara pribadi dan atas nama pemerinah Kabupaten Sukabumi menyampaikan ucapan turut bahagia, dan turut mengucapkan selamat atas peringatan Haul ke-10, almarhum, almaghfurlah, Uwa, KH. Zezen ZA Bazul Asyhab sebagai pendiri Pondok Pesantren Azzainiyyah sekaligus dalam rangka mengingat jasa-jasa dan kebaikan almarhum, dan saat ini, almarhum sudah lama meninggalkan kita semua. Namun kebermanfaatan dan kebaikan beliau masih bisa dirasakan oleh kita semua.
“Di antara jasa almarhum, bagi pemerintah serta masarakat Sukabumi adalah lahirnya Perbup, Perda, dan Inbup tentang keagamaan antara lain Intruksi Bupati No. 23 tahun 2026 tentang Gerakan Shalat Subuh secara berjamaah, menciptakan mars dan himne Kabupaten Sukabumi yang dijadikan lagu wajib di Kabupaten Sukabumi. Semoga kebaikan-kebaikan tersebut, ganjarannya bisa dirasakan beliau di alam barzakh. Âmîn. Wakil Bupati Sukabumi juga menyampaikan apreasisinya atas pada keluarga besar JATMAN Jawa Barat yang hari ini resmi dilantik. Semoga pelantikan bukan hanya seremonial, tetapi momentum untuk memperkuat tekad serta menunaikan amanah dakwah, membimbing umat menuju jalan Allah Swt. serta menumbuhkan nilai-nilai akhlakul karimah di tengah-tengah masyarakat,”ujarnya.
Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Katib Syuriyah PWNU Jawa Barat, sekaligus juga Katib Mustafad JATMAN Idrah Wustha Jawa Barat, KH. Rd. Fatahillah. Dalam sambutannya, KH. Rd. Fatahillah menyampaikan ucapan selamat atas pelatikan pengurus Wustha, Syu’biyah semuanya, ini tugas yang berat. Kita harus “mencuri’, khususnya hati-hati masyarakat Jawa Barat untuk menyambungkan dirinya kepada Allah Swt. Yang paling sulit adalah penyakit dalam, penyakit batin. Penyakit lahir itu mudah, tapi yang lebih sulit itu penyakit batin. Itulah thariqah. “Thariqah adalah penjaga Nahdlatul Ulama. Pintu gerbang kekuatan itu adanya di thariqah. Tidak ada yang bisa merubah keputusan Allah kecuali dengan doa. Semua yang hadir, para santri akan mendapat, berkah, karamah dari Almarhum, Almaghfurlah, Uwa, KH. Zezen ZA Bazul Asyhab karena beliau ini orang soleh. Buktinya orang saleh, kiai kiai pada datang. Kalau Uwa bukan orang saleh, tidak mungkin kiai-kiai akan datang,”katanya.
Penghujung dari acara, adalah tausiyah, maudhah hasanah disampaikan Wakil Rais Idarah Wustha JATMAN Jawa Barat, Sayyid Syef Alawi yang pada salah satu bagiannya menyampaikan cerita tentang Gus Dur, terkait dengan JATMAN sebagai Badan Otonom Nahdlatul Ulama. Ketika Gus Dur pernah bercerita, dipanggil ke suatu daerah serta disambut oleh pengurus NU di daerah tersebut, yang berkata,”Gus, Pak Bupati senantiasa menyambut kita dan merespon program-program NU di wilayah kita.” Gus Dur malah bertanya,”Sejak kapan NU harus bergantung pada pemerintah?” Maka dibuktikan saat ini, tadi dibilang dari awal, JATMAN, tanpa mengandalkan bantuan dari pemerintah atau siapapun, terlebih keluarga Uwa, mereka selalu mandiri untuk menyelesaikan segala urusannya, untuk khidmat pada umat, pada masyarakat, pada Nahdlatul Ulama. JATMAN mandiri, serta mesti dikembangkan sebagai salah satu prototype organisasi keagamaan yang tidak hanya melulu dzikir saja, tapi JATMAN harus melakukan terobosan organisasi yang mampu menunjukkan menembus langit untuk menebarkan rahmat Allah di muka bumi.
Mudir Ali Idarah Aliyah JATMAN, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa, SH., M.Si., M.Si. memulai tausiyah dengan pertanyaan,”Mengapa banyak orang yang lupa terhadap Allah? Kenapa banyak orang yang “mursal?” Mursal itu temannya “korak”, temannya “preman”, dia tidak mengenal Allah dan dia asyik dengan dunianya itu. Karena dia tidak tahu, ke mana dia harus menuju Allah, Tidak ada mursyid, tidak ada irsyad yeng memberikan petunjuk sehingga dia terjerembab, salah arah di dalam hidupnya. Padahal di dalam Alquran disebutkan “laqad khalaqnal insâna fî ahsânit taqwîm.”
Karena sesunguhnya manusia itu diciptakan Allah, sebaik-baiknya ciptaan. Karena apa? Manusia ada unsur qalbi, punya rohani yang betul-betul memiliki “basyirah”, pada satu sisi. Sisi yang lain, manusia juga diberikan oleh Allah nafsu. Di sisi lain ada akal, di sisi lain disebut “asykar” yang menurut Imam Al-Ghazali, itu adalah panca indra kita. Semua dari empat penjuru ini, kenapa manusia mursal? Karena seluruh hidupnya tidak dikendalikan hati itu. Tapi oleh nafsu, nafsu kekuasaan, nafsu jabatan, nafsu ingin kaya meskipun rakyat miskin. Ini yang terjadi akhir-akhir ini. Kelembutan hati tidak ditunjukkan atas keresahan dan kesedihan dari rakyatnya. Itulah ketika orang tidak tahu kemana arahnya, ia terjerembab di dalam “asfala sâfilin”, serendah-rendahnya ciptaan. “Pertanyaannya, kita akan tetap ahsânut taqwîm, atau asfala sâfilîn? Mencapai ahsânut taqwîm, jalan satu-satunya adalah thariqah,”tegasnya.
Puncak dari acara Pelantikan Idarah Wustha Jawa Barat serta Idarah Syu’biyah-Syu’biyah lima kabupaten serta kota di Jawa Barat, diisi dengan tausiyah dari Syekh Fathurahman Akbar, Rais Idarah Aliyah serta Rais Mustafad JATMAN Jawa Barat. Dalam tausiyahnya, Syekh Fathurrahman Akbar yang juga Mursyid Tarekat Idrisiyah Tasikmalaya menyampaikan hadits Nabi yang masyhur serta terkenal, kaitan dengan “khairu qarnî”, sebaik-baiknya zaman, zamannya Nabi, kemudian zaman sahabat,kemudian tabi’în dan atbaut tâbi’în. Tapi di hadits yang lain Nabi bersabda, “khairu ummatî awwaluhâ, waâkhiruhâ wafî washtiha al-kadar” (“sebaik-baiknya umatku adalah yang awal, kemudian yang akhir”). Maka, Ibnu Kutaibah dalam Kitab ”Mukhtalaful Hadits”, dua hadits seakan-akan ta’arud, bertolak belakang. Dua-duanya shahih. Ternyata, ada “khairu ummah”, sebaik-baiknya umat, yang awal, juga yang akhir, dan banyak penunjang hadits yang lainnya, yang menunjukkan kondisi di akhir zaman.
Di mana tandanya, kebangkitan umat akhir zaman itu, ketika bumi dipenuhi “kedustaan”, kemudian “kefasikan”. Dan kemudian kita melihat kondisi akhir zaman. Dalam kondisi seperti itu, maka Allah akan kembalikan umat ini “khaira ummah” (sebaik-baiknya umat) sehingga dalam Aqidah Asy’ariyah itu termasuk dalam bab yang kita dengar dari Nabi Saw, menjadi tanda hari kiamat yang besar. Bahwa khairu umat itu, akan naik kembali. Hari ini umat di bawah ibarat roda, maka sebentar lagi, akan naik ke atas. umat akan dibangkitkan kembali. Lalu siapa yang akan menjadi motor penggerak kebangkitan ini? Apabila umat ini dikembalikan lagi pada tasawuf. Kebangkitan akhir zaman itu lokomotifnya adalah thariqoh-thariqah mu’tabarah.[]
Penulis: Dodo Widarda
Editor: Busro







